Martha Tilaar : Saya ini BONEK

martha tilaarJAKARTA: Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group, memulai bisnisnya di ruangan seluas 24 meter persegi dan hanya memiliki satu pegawai. Kegigihan, kejujuran, dan ‘kenekatan’ menjadi bagian dari modal yang dimilikinya untuk membangun bisnis kecantikan yang kini sudah merambah pasar luar negeri.

Kini, salah satu anak usaha yang bernaung di bawah Martha Tilaar Group yakni PT Martina Berto Tbk segera menjadi perusahaan publik. Kepemimpinan perusahaan ini dipercayakan kepada Bryan Tilaar, salah satu anaknya.

Berikut petikan wawancara dengan Martha Tilaar soal perjalanan bisnisnya selama 40 tahun terakhir.

Bagaimana Anda memulai bisnis dari awal? Dan mengapa baru setelah 40 tahun salah satu anak usaha Grup Martha Tilaar menjadi perusahaan publik?

Kami harus melakukan investasi besar dalam hal teknologi. Kami memulai usaha ini dari bakul jamu yang kampungan hingga sekarang bisa go global. Investasi kami besar karena harus membeli alat yang canggih-canggih.

Saya memulai usaha ini dari ruangan berukuran 6x4 meter (24 meter persegi), dengan satu orang pegawai dan satu generator karena waktu itu kan aliran listrik sering mati.

Saya juga rajin mendatangi para dukun untuk ibu-ibu yang melahirkan untuk mendapatkan gambaran mengenai racikan yang mereka pakai, karena ramuan tersebut memang tidak ada literaturnya. Mereka kan mengetahui bagaimana memakai parem, dan bagaimana biar cepat menjadi langsing kembali. Itulah historical kami. Dari bakul jamu yang kampungan, bisa go global.

Kini, kami sudah banyak mendapatkan penghargaan. Kami juga baru saja mendapatkan award untuk HRD dalam rangka Hari Ibu, karena 70% karyawan kami adalah perempuan. Mengapa perempuan? Karena perempuan lebih telaten.

Dalam hal riset dan pengembangan, kami juga melakukan investasi di bidang SDM. Kami memiliki karyawan yang bergelar phd dari London dan Jerman. Kami sekolahkan medical anthropology. Jadi, investasi kami besar sekali untuk R&D (research & development). Saat ini ada dua orang phd di bidang etnobotani. Kami juga punya dokter sebagai advisory board.

Dan baru saja (Desember), kami di-endorse oleh Perdoski (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin), di mana kami bisa menempelkan logo Perdoski di produk kami. Biasanya dokter kan tidak mau dengan jamu yang katanya kampungan.

Scientific approach ini dilakukan dari awal?

Iya, dari awal. Karena pengalaman saya yang dianggap sebagai orang gila dan dipikir ingin menjadi dukun, saya menggunakan scientific approach. Untuk mendapatkan trust dari konsumen, kita memang harus mempresentasikan sesuatu.

Jadi, saat Indonesia sudah 50 tahun merdeka, waktu itu saya sudah ingin jadi nyonya rumah sendiri. Kami melamar sebagai tenant di mal-mal, dan mereka menolak. Mereka bilang nggak level bersanding dengan produk-produk branded.

Terus saya gebrak mejanya, saya tanya ke dia memang dia orang apa? Tinggal di mana? Dia diam saja, lalu saya bilang saya mau lapor ke Presiden. Dan mereka takut. Padahal, di Tokyo dan Thailand kan justru produk dalam negeri mereka itu yang diekspose.

Dan pada 1997-1998, saat terjadi krisis yang besar sekali, di mana nilai dolar AS terhadap rupiah naik sampai lima kali, mereka (konsumen) melirik kami. Sebelumnya, kami itu bleeding (berdarah-darah) sekali di mal-mal. Itu karena produk kami memang murah sekali. Dan setelah dolar naik hingga lima kali lipat, mereka melihat kami. Dan mereka bisa membuktikan bahwa memang tidak ada efek samping dari produk kami. Itu adalah scientific approach. Kami melakukan good manufacturing practices dan kami juga mendapatkan banyak ISO.

Kini, kami juga sudah membuka outlet di Marina Square, Singapura, berdampingan dengan Body Shop. Strateginya memang bonek [bondo nekat]. Kami ingin jadi Body Shop-nya Indonesia. Karena sekarang sudah 40 tahun, kami sudah siap untuk go public, transparan, dan sebagainya.

Bagaimana Anda menjalankan bisnis ini?

Kami melakukan bisnis dengan jujur. Kami pernah punya utang cukup besar dengan sindikasi bank di Singapura. Saat krisis 1998, mereka (kreditur) mempersilakan kami untuk default (gagal bayar). Tapi kami tidak mau. Kami bayar bunganya dan kami mau bayar pokoknya.

Dua nenek, saya dan ibunya Pak Sam (Direktur PT Martina Berto Samuel Pranata yang juga merupakan keponakan Martha Tilaar) datang menghadap para kreditur itu. Saya bilang kalau saya datang ke sana untuk bilang bahwa saya tidak bisa bayar utangnya sekarang karena saat itu nilai dolar naik hingga lima kali lipat, tapi kami minta tolong untuk dibantu melakukan restrukturisasi.

Saya bilang ke mereka untuk percaya saya dan until my last drop of blood, I’ll pay you. Jadi mereka bilang oke. Dan sampai selesai, semua berjalan bagus sekali. Eh, sekarang kami diburu-buru agar berutang lagi.

Pada 9 Juli 1999, kondisi [ekonomi Indonesia] sedang sulit sekali, tapi justru pada saat itu kami bisa melunasi porsi saham keluarga pemilik PT Kalbe Farma Tbk yang waktu itu mencapai 51% di Martina Berto. Mereka jual sahamnya kepada kami karena mereka ingin fokus ke bisnis farmasinya.

Martina Berto itu kan singkatan dari nama Martha Tilaar, Tina [dari pihak keluarga pemilik Kalbe Farma], Bernard Tanata.

Kami membayar lunas seluruh saham keluarga pemilik grup Kalbe tersebut. Tidak dicicil. Kami juga bertekad agar skala bisnis perusahaan ini harus lebih besar.

Restrukturisasi utang bisa berjalan dengan bagus saat yang bersamaan pula?

Restruktursasi utang dimulai 1998. Kami perpanjang hingga 5 tahun, di mana seharusnya kan kami harus membayar semua utang itu pada 1999. Kami bisa bayar pada waktunya, sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam restrukturisasi.

Kami buktikan dengan financial performance. Pada 1998, financial performance kami bagus sekali. Bisa naik sampai 400%.

Apakah tidak terjadi pengurangan karyawan saat krisis itu?

Di Pulo Gadung [tempat banyak pabrik beroperasi], saya berbahagia lihat banyak perempuan keluar dari pabrik dan bisa bercanda kepada sesama temannya. Tapi pada 1997-1998, sama sekali kosong. Lalu saya tanya kepada salah satu direktur di sana dan katanya 65% karyawan mereka terkena pengurangan karyawan.

Lalu saya berdoa agar saya jangan sampai melakukan lay-off. Ini kan pekerjanya para perempuan, saya minta agar Tuhan kasihani.

Saya juga selalu melakukan kunjungan dan riset kepada para heritage. Saya ke Minang [Sumatra Barat], dan saya tanya kepada ibu-ibu di sana apa warna pertama atau prominent di Minang. Ternyata ada dua warna yakni kuning dan merah.

Jadi saya bilang kepada manajer saya untuk membuat lipstick dua wartna. Mold lipstick itu dalam dua warna. Ada gold dan red, gold dan pink, serta gold dan brown. Jadi saya kombinasikan.

Dengan satu lipstick, bisa untuk empat macam make-up. Peningkatan penjualan dari lipstick itu mencapai 400%. Jadi bukannya lay-off, tapi malah overtime kegiatan produksinya. Jadi, inovasinya itu penting. Di era global ini, inovasi itu penting. Kalau kita cuma nyontek, ya sulit.

Anda sepertinya punya sense of belonging besar, sehingga yang ditawarkan untuk go public adalah PT Martina Berto, bukan induk dari grupnya?

Kalau saya mau, bertahun-tahun yang lalu, banyak perusahaan luar negeri [asing] yang kepengen [ingin] ambil [alih] semua. Tapi mereka maunya [kepemilikan] mayoritas. Minggu yang lalu [awal Desember] sebelum kami go public, langsung ada yang datang dan suruh bubarkan [proses IPO Martina Berto] dan mereka mau bayar double [dua kali lipat dari nilai yang dibidik lewat IPO]. Tapi saya tidak mau. Takut visinya berbeda.

Kontribusi terbesar terhadap bisnis Anda?

Masih di kosmetik kurang lebih 40%. Yang kedua, perawatan wajah, body care, hair care, dan jamu. Jamu memang masih belum terlalu besar. Ini sedang kami kembangkan. Itulah sikap bonek saya. Saya kan tidak ada gantungan, tidak ada koneksi, jadi harus nekat.

Apa filosofi Anda sehingga bisa mengembangkan bisnis hingga seperti saat ini?

Djitu [singkatan dari disiplin, jujur, iman, tekun, dan ulet]. Ayah saya bilang kalau saya mau mengubah dunia, saya harus mulai dari diri sendiri. Saya harus jadi Djitu. Disiplin merupakan hal yang wajib, baik dalam pemakaian uang dan waktu dalam pekerjaan.

Jujur juga perlu sekali, karena tanpa kejujuran, tidak ada trust [kepercayaan]. Iman. Zaman dulu kan perempuan, imannya harus kuat. Iman ini, kalau zaman sekarang relevan dengan inovasi. Tekun artinya harus fokus, jadi jangan mau semuanya, tapi tidak ada yang beres. Dan filosofi terakhir adalah ulet.

Anda sering sekali menyebut kata bonek.

Ya. Salah satu bentuk kenekatan saya lainnya adalah saya pergi ke universitas-universitas, karena saya ingin ilmu tradisi ini dilestarikan secara scientific. Di Universitas Indonesia, kami sudah diterima. Kami bekerja sama mengembangkan jamu. Lalu setelah 2 tahun kami bekerja sama, sekarang ada magister herbal medicine di UI.

Saya juga dibilang goblok sama pedagang jamu lain, karena saya bilang menyampaikan pengetahuan saya soal medical herbs ini ke profesor Gumilar [Gumilar Rusliwa Somantri, rektor UI]. Saya memang tidak mau menyimpan sendiri ilmu saya. Dan pada usia 74 tahun, tepatnya pada 3 September 2010 [Martha Tilaar berulang tahun setiap 4 September], saya diterima sebagai dosen di UI. Lucu juga. Dulu atau sekitar 50 tahun lalu, saya mendaftar untuk bisa kuliah di UI dan tidak diterima. Eh, sekarang malah diterima menjadi dosen.

Saya dipanggil oleh SBY [Presiden Susilo Bambang Yudhoyono] dan rektor beberapa universitas untuk melihat traditional Chinese medicine. Di China, mereka punya Chinese medicine dan medical medicine. Jadi kalau orang tidak bisa diobati secara medis, bisa diobati secara herbal.

Saya punya pengalaman pribadi soal ini, saya kan sempat selama 16 tahun tidak bisa mempunyai anak dan telah divonis mandul oleh semua dokter. Tapi, eyang saya bilang agar saya jangan takut dan dia treat saya dengan power of herbs [kekuatan obat-obat herbal]. Nyatanya, saya bisa memiliki anak. Pada usia 42-45 tahun, saya melahirkan anak-anak saya.

Kapan regenerasi bisnis Anda lakukan?

Pertanyaan ini dijawab oleh anak Martha Tilaar yakni Bryan Tilaar yang kini menjabat Direktur Utama PT Martina Berto Tbk] Saya jadi direktur utama pada 2001, tapi karier saya kan dari management trainee. Kalau Pak Sam juga dari management trainee, tapi di perusahaan di luar grup.

Apa lagi cita-cita Anda yang belum tercapai?

Semoga anak-anak bisa melanjutkan usaha ini, sehingga tidak mencari pekerjaan, tapi justru menciptakan lapangan pekerjaan untuk sesama.

Kalau untuk Indonesia, menurut saya pendidikan itu menjadi yang paling penting. Kalau kita tidak berpendidikan, khususnya untuk perempuan, itu akan menyusahkan kita semua. saya melihat entrepreneurship di sini kurang, padahal di pasar Bringharjo itu kan semuanya perempuan. Namun, UKM-nya kecil sekali dan mereka hanya bisa mencari uang untuk makan dan sekolah.

Oleh sebab itu, harus ada pendidikan entrepreneurship. Saya ingin galakkan entrepreneurship, makanya kami punya beautypreneurship untuk yang bisa membikin usaha bisnis kecantikan. Kami mulai dari dasar dulu, tapi next time, kami juga bisa ambil untuk kuliner.

Sumber : http://www.bisnis.com/opini/6342-martha-tilaar-saya-ini-bonek


Artikel ini berjudul Martha Tilaar : Saya ini BONEK, dengan url http://rofikdawami.blogspot.com/2011/02/martha-tilaar-saya-ini-bonek.html
Klik di sini untuk melihat daftar isi blog ini.

Baca Juga Artikel Yang Ini

{ 1 komentar... Baca Semua / Tulis Komentar ! }

Glory Chilly mengatakan...

Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk investasi yang lebih besar? Pinjaman untuk ekspansi bisnis? Pinjaman untuk investasi baru? Pinjaman untuk melunasi utang jangka panjang dan tagihan. Cari tidak lebih, kita pemberi pinjaman dalam hubungannya dengan bank dan jaminan penawaran yang transparan, menawarkan pinjaman dengan bunga rendah, non agunan. Kami di sini untuk menempatkan dan mengakhiri kemiskinan dan pengangguran, karena setiap orang memiliki / potensi sendiri. Hubungi kami hari ini dan Anda akan menjadi salah satu pelanggan kami yang terhormat. Email: gloryloanfirm@gmail.com Terima kasih sudah datang.

Posting Komentar

Informasi yang tersedia di ini dikumpulkan dari berbagai sumber, anda bebas untuk berkomentar, mengkritik, kasih saran ataupun Nyepam.. tapi yang SOPAN ya....
Terimakasih.


Warning: Komentar yang mengandung Sara, Pornografi dan Berbau Iklan "Halal" untuk saya hapus